Jembatan para Dermawan

79

PFI Bergiat menghimpun para dermawan untuk bersinergi membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Puluhan pengusaha, dan pengurus yayasan tampak memadati acara yang dihelat Kementerian Sosial dan Forum CSR Kesejahteraan Sosial, bertajuk “Optimalisasi Peran Dunia Usaha dan Filantropi Dalam Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, dan Ketimpangan Sosial”, di Grand Sahid, kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis pagi (26/10).

Ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Timotheus Lesmana, mengajak semua yang hadir pada acara itu untuk bangga kepada negara tercinta. Pasalnya, berdasarkan penelitian Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2016 menyebutkan, Indonesia negara paling dermawan nomor dua di dunia setelah Myanmar. Indikator penilaiannya adalah helping strangers atau kerelaan menolong orang asing/belum dikenal), donate money atau mendonasikan uang, dan volunteering time atau meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan kerelawanan.

“Artinya kita punya bekal untuk membangun negara, meretas kemiskinan, secara bersama-sama,” ujar Timotheuss. Ucapan itu sontak mendapat sambutan tepuk tangan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, ketua Forum CSR Kesejahteraan Sosial Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, pejabat Kemensos, puluhan pengusaha, dan pimpinan berbagai yayasan yang hadir di acara tersebut.

Sinergi sumbangan

Di sela-sela acara, Executive Director PFI Hamid Abidin menjelaskan sejak berdiri pada 2014, Filantropi Indonesia sudah melakukan edukasi sumbangan kepada para dermawan pribadi, yayasan perusahaan, dan yayasan sosial. Contohnya, Eka Tjipta Foundation, Tahir Foundation, Unilever Foundation, Medco Foundation, Sampoerna Foundation, Astra Foundation. Yayasan amal berbasis keagaman, seperti Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Bazarnas, Rumah zakat, Dompet Duafa, dan masih banyak lagi entitas serupa lainnya dengan total mencapai 70 entitas.

Apa saja yang dilakukan PFI? Hamid menjelaskan, PFI memiliki tugas utama membangun jembatan komunikasi dan sinergi antaryayasan atau dermawan untuk membuat kegiatan sumbangan yang bersifat meningkatkan kualitas masyarakat. Himpunannya juga mencatat rincian sumbangan para anggotanya, sehingga tak terjadi tumpang tindih bantuan. Namun, Hamid menggarisbawahi, PFI tak menghimpun dana. Misalnya, dalam hal kepedulian terhadap konsumen, PFI mendorong yayasan dan dermawan untuk menyumbangkan biaya riset makanan di pasar secara mandiri.

“Kalau mengandalkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saja, yakin, enggak terpantau seluruh makanan,” kata Hamid.

Manfaat riset yang juga menggandeng Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tersebut menghasilkan, ada beberapa merek makanan siap saji, baik di pasar modern atau pun pasar tradisional yang mengandung boraks. Hasil temuan itu kemudian disampaikan secara resmi kepada BPOM. Sayangnya merek dagangnya, belum dapat disebutkan.

Kemudian, ada lagi kegiatan membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Filantropi mengajak yayasan atau dermawan untuk menyumbangkan ide dan uang dengan membuat gerakan “Berantas Korupsi” melalui seminar-seminar di sekolah dan kampus. Aksi ini juga dibantu oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang. Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya,” jelas Hamid.

Selain itu, PFI memiliki agenda rutin untuk para anggotanya, yaitu seminar filantropi yang berkaitan dengan isu terkini. Hamid menyebut, belum lama ini telah menggelar edukasi mengenai imbauan menyumbang dengan menyisipkan nilai-nilai toleransi. Misalnya, ada yayasan Budha yang membangun kawasan kumuh yang mayoritas penduduknya Islam.

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan,” jelas Hamid.

Tak hanya seminar, para anggota juga dapat mengakses pemetaan wilayah di Indonesia yang perlu mendapat bantuan. Tak kalah penting, PFI juga sebagai mediator ketika yayasan perusahaan bersengketa.

“Kasus kembalian untuk sumbangan yang dilakukan sektor usaha ritel, kami mediasi dengan lembaga konsumen,” sebutnya. Intinya, bagi siapa pun yang ingin menjaring sumbangan, wajib dipaparkan kepada konsumen peruntukannya. Jika ingin disumbangkan untuk membuat sekolah, wajib ditampilkan lokasinya kepada pembeli.

Filantropi Indonesia juga memberi masukan dengan pengusaha ritel tersebut, untuk membangun sarana infrastruktur di lokasi usaha itu berdiri.

“Sekarang sudah ada sekolah yang dibangun tepat di samping lokasi supermarket. Jadi, orang mau menyumbang, kelihatan hasil sumbangannya,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Hamid mengapresiasi acara temu nasional yang dilakukan oleh Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kessos), Kemensos, dan para pengusaha ini. Berharap ada rumusan yang konkret untuk mendorong pemerintah menyejahterakan rakyat. Filantropi Indonesia akan membantu menjaring para dermawan.

“Misi kami sekarang mendorong kegiatan kedermawanan jangka panjang.Tak sekadar bangun masjid. Sumbangan sudah fokus kepada persoalan konsumen, korupsi, buruh, toleransi, dan edukasi masyarakat lainnya.”

“Kami ingin membuka pemikiran para dermawan, menyumbang itu tidak perlu melihat ras, suku, agama. Kita ini sama, membantu pemerintah memberantas kebodohan dan kemiskinan.”- Aprilia Hariani

LEAVE A REPLY