Anjangsana Hakiki

84
Gbr: Ilustrasi

 

Penulis: Aan Almaidah A.

 

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam medan perang, seperti yang kita doakan setiap kali ritual upacara bendera—lalu menjadi dogma. Ada banyak pahlawan lain yang luput kita kenalkan di jiwa anak-anak bangsa.

Barangkali sudah banyak di antara kita yang lupa dengan suasana upacara bendera: suasana magis saat pembacaan doa atau mengheningkan cipta terjadi. Mungkin pula hanya sedikit yang masih dapat mengilas balik hafalan saat Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dibacakan secara lantang. Saat ini, nilai suatu upacara bendera mungkin tidak lebih dari kewajiban rutin setiap Senin atau hari besar setiap tahun—berpanas-panasan, dan selesai. Kapan anda terakhir upacara bendera? Jangan tanyakan hal ini kepada seorang pegawai negeri sipil. Pasti mereka sudah terbiasa.

Adakah sentuhan lain di saat upacara yang menggerigis hati kita?

Hmmm… apa ya?

Maaf, saya tidak merasakan apa-apa.

Coba tanyakan kepada anak SD hal yang sama, tetapi dengan cara membalik pertanyaan. Mana lebih suka, upacara atau enggak? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, tapi pasti mereka memilih yang mereka suka.

Ada satu hal yang menarik dari nilai upacara. Ada nilai “anjangsana” di dalamnya. Anjangsana, adalah suatu kata yang sudah lama tidak kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, anjangsana adalah kunjungan untuk melepaskan rasa rindu, atau kunjungan silaturahmi. Rasa rindu, dimiliki oleh setiap orang yang pernah bertemu dan lama tidak bersua. Silaturahmi, bisa dilakukan kepada keluarga, teman, tetangga, dan memiliki esensi memperpanjang usia. Namun adakah yang bisa menjelaskan suatu kunjungan untuk melepaskan rasa rindu tanpa kita mengenal dekat orang yang kita rindukan, atau, tanpa perlu mendatangi tempatnya?

Bisa. Caranya sederhana. Dengan memahami kandungan ritual upacara bendera.

Kita “bertemu” dengan para pahlawan di upacara bendera. Kita mendoakan mereka. Mereka ada untuk kita doakan, walaupun mereka sudah tiada. Sayangnya, kita sering lupa, saat komando “Mengheningkan Cipta,  mulai!” Kita tepekur, bahkan tanpa bisa membayangkan pahlawan mana yang akan kita hadiahkan doa kita. Padahal, percayalah, di dunia sana, mereka sangat mengharapkan doa-doa kita untuk menerangi kuburnya, memperluas dunianya, dan menyejukkan hatinya.

Seandainya di Hari Pahlawan ini ada kesempatan menghadiri upacara bendera, maka kita harus memulai memperkuat pikiran. Letakkan imajinasi untuk fokus pada wajah-wajah pahlawan nasional, kemerdekaan, atau siapa pun yang kita akui sebagai pahlawan. Lantas, baru mulai doakan mereka dengan khusyuk seolah mengenalnya begitu dekat dan lama, seperti orang tua kita sendiri.

Imajinasi adalah hal yang digelisahkan Bung Karno lewat pidatonya di Semarang pada tanggal 29 Juli 1956. Di buku Youth Challenges and Empowerment, Anand Krishna menuliskan, Bung Karno menyatakan kegelisahannya terhadap pemuda-pemudi bangsa yang sudah mulai tidak peduli terhadap sejarah kita sendiri, sehingga kita juga tidak mempunyai imagination. Bangsa yang tidak mempunyai imajinasi tidak bisa membuat (monument). “Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai imagination,” demikian kegalauan Bung Karno saat itu. Dan ini pemikiran tokoh bangsa yang sangat visioner.

Tentang imajinasi, Victor Frankl pernah menyatakan bahwa empat anugerah Ilahi yang terdapat dalam diri manusia adalah: (1) kesadaran diri (self-awareness); (2) suara hati (conscience); (3) kehendak bebas (independent will); dan (4) daya imajinasi (imagination). Keempat anugerah Ilahi itu terletak pada cara kerja akal dan hati. Saat kita tidak bisa menghargai imajinasi, maka kreativitas terkubur. Imajinasi juga merupakan media untuk mewujudkan cita-cita. Kita seharusnya tahu, dasar sejarah pembuatan candi-candi di Indonesia itu beralaskan imajinasi. Seharusnya, kita bangga atas imajinasi tersebut. Nah, letak keberhasilan suatu bangsa adalah rasa percaya diri generasi mudanya. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa PD sebagai bangsa sehingga menjiplak luar negeri. Tidak percaya diri, karena kurang percaya satu sama lain. Tidak peduli pada masa lalu. Apabila nenek moyang saja bisa membuat candi besar dengan imajinasi hebat, sudah selayaknya cucu buyut moyang membangun negara dengan imajinasi yang lebih fantastis, bukan?

Namun, apa yang sedang terjadi saat ini?

Pembangunan dibiayai oleh pajak. Apabila penerimaan negara tidak mencapai target maka pembangunan dibiayai oleh pinjaman termasuk pinjaman luar negeri. Berarti, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pembangunan. Nah, apabila tidak ada uang untuk melunasi pinjaman, maka kumulasi pinjaman meningkat, yang disebut utang turunan sampai ke anak cucu. Semakin banyak kita menemukan expertise atau tenaga ahli asing berperan dalam pembangunan negara ini.

Bila target pajak saat ini hanya diampu oleh sebanyak dua juta Wajib Pajak yang melakukan pembayaran, masih sulit menembus target yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, data demografis menunjukkan adanya potensi Wajib Pajak yang seharusnya membayar pajak. Ke manakah mereka sekarang? Seandainya dua atau tiga kali lipat masyarakat memiliki tanggung jawab dan kesadaran bayar pajak, maka kita punya data enam juta pembayar pajak. Diharapkan, meningkatnya kesadaran perpajakan berkorelasi positif dengan kepatuhan membayar pajak untuk mendukung tercapainya penerimaan pajak yang menjadi target per tahunnya.

Di zaman yang universal ini, sinergi membangun di suatu negara yang dilakukan antarbangsa bisa diberi judul “globalisasi”. Nah, di era Majapahit atau Sudirman, belum ada globalisasi. Imajinasi, yang terbentuk saat Indonesia merebut kemerdekaan, sungguh berbeda dengan imajinasi di saat informasi teknologi, juga jauh berbeda dengan imajinasi di saat Indonesia masih disebut Nusantara. Sayangnya, kita malas belajar sejarah. Padahal belajar sejarah akan membentuk karakter percaya diri. Contoh, sejak awal era Masehi, Indonesia memiliki banyak kerajaan kecil yang berdaulat. Pemuda di zaman itu percaya pada kekuatannya untuk membangun kerajaannya. Mereka tidak menuntut pengakuan sebagai pahlawan. Sejatinya, seseorang yang ditahbiskan sebagai pahlawan, mungkin saja tidak mempunyai cita-cita menjadi pahlawan.

Lantas bagaimana dengan seorang pembayar pajak yang dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban perpajakan secara benar dan baik lebih dari lima tahun berturut-turut? Apakah dia bisa diusung sebagai pahlawan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak—bisa juga dijadikan status media sosial. Respons, tentu akan bertubi-tubi mengkritik. Seorang pembayar pajak disebut pahlawan? Yakin kalau tidak ada upaya penghindaran pajak di balik semua pembayaran pajaknya? Apakah benar dia benar-benar jujur?

Sekarang pertanyaan dibalik.

Jangan membandingkan yang sudah membayar pajak dengan dirinya sendiri. Bandingkan dengan yang sama sekali belum memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang taat pajak. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu? Tidak usah dibahas lebih lanjut jawabannya, karena pasti kita memilih yang kita suka.

You are the nation’s hero. Kata-kata heroik itu tertulis di map seminar institusi pajak negara tetangga. Termenung membacanya. Mereka bahkan sudah berani mengapresiasi setinggi-tingginya sikap cinta tanah air yang dituangkan dengan membayar pajak. Sang pembayar pajak pun, berani dipastikan, tidak pernah berharap bahwa mereka disebut pahlawan. Tidak perlu sampai diukir di batu nisan. Hanya merupakan pahlawan secara masif, yang diperingati dalam sehari ketika menerima penghargaan sebagai pembayar pajak terbesar. Mungkin nilai kepahlawanan itu sendiri berubah dari tahun ke tahun tergantung besarnya pembayaran. Atau, mungkin tidak ada perayaan tapi penanaman kesan, bahwa mereka pahlawan.

Kembali kepada kepercayaan diri.

Napoleon Hill, dalam Selling You-nya yang lawas dan luar biasa, menekankan bahwa kepercayaan diri berawal dari rumah. Peran sepasang lelaki perempuan dan manusia yang mengikat janji kebersamaan membentuk mahligai rumah tangga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak suci yang dilahirkan ibunda. Guru karakter pertama mereka adalah orang tua. Karakter itulah nantinya akan bercabang ke arah kepribadian atau kepercayaan diri, dan lain-lain, yang saat ini sangat tendensius menjadi komoditas pelatihan motivasi. Kalau mau dipikirkan kembali, semua topik dari motivasi hanya berakar dari satu kalimat. Sudahkah kamu mengenali dirimu sendiri?

Kegagalan menemukan siapa diri kita, akan menggagalkan cita-cita menjadi bangsa hebat. Kegagalan untuk kenal diri kita siapa, kemudian melahirkan materi pembentukan karakter yang menjadi inti di setiap kurikulum pendidikan. Misinya mulia, membentuk karakter generasi. Tujuannya, jangan sampai kegagalan ini berulang di anak cucu. Jangan heran bila muatan pendidikan akan penuh dengan titipan pembentukan karakter dari berbagai keprihatinan. Supaya generasi muda selamat dari bahaya narkoba, gemar menabung, cinta membaca, tahu peran pajak, kenal kekayaan bumi dan lautan, dan seterusnya.

Saat kita masih sibuk berdebat masalah perilaku antargenerasi, coba iseng-iseng menanyakan pendapat mereka, siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan? Kalau ada yang menjawab bahwa pahlawannya adalah ayah dan ibu, maka bisa diharapkan mereka memiliki anugerah sedari kecil untuk percaya diri, tinggal dikembangkan dengan memaknai masa muda melalui pengalaman dan proses yang terjadi. Namun kalau mereka menjawab pahlawannya orang lain? Tidak masalah juga, karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk seperti itu. Karakter mereka terbentur, baik dicari ataupun tidak, melalui benturan yang dirasa atau tidak. Siapa tahu tempaan proseslah yang membuat anak muda melakukan anjangsana hakiki dalam fokus imajinasinya.

“Walau bagaimana pun perlu diakui, kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!” (Bung Karno, 1947).

You are the nation’s hero. Mana yang lebih pahlawan, mereka yang sudah bayar pajak terus-menerus atau yang tidak mau bayar padahal mampu?”

LEAVE A REPLY