Berlari Bersama Waktu

295
Ilustrasi waktu/Foto: Istimewa

Penulis: Aan Almaidah A.

Foto: Istimewa

“Why should society feel responsible only for the education of children, and not for the education of all adults of every age?”

Pertanyaan Erich Fromm itu bila diterjemahkan bebas kira-kira seperti ini: “Mengapa masyarakat bertanggung jawab hanya pada pendidikan anak, dan tidak bertanggung jawab pada pendidikan orang dewasa?”

Fromm, adalah seorang psikolog psikoanalisis dan filsuf yang menitikberatkan pada esensi manusia dalam kehidupan. Dia melihat bahwa hubungan antara struktur sosial dan karakter sosial serta individu tidak pernah statis, yang unsur tersebut memiliki hubungan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Struktur sosial masyarakat dapat memengaruhi pembentukan karakter sosial anggota-anggotanya, sehingga mereka ingin melakukan apa yang harus mereka lakukan.

Transformasi dari masyarakat yang sakit kepada masyarakat yang sehat, menurut Fromm, tergantung dari penciptaan kembali kesempatan bagi anggota masyarakat untuk berjalan bersama, saling mengagumi, saling menyapa, untuk menciptakan orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka.

Budaya. Saat berbenturan dengan budaya, maka yang dipertanyakan adalah alasan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jadi, bila budaya itu bersinggungan dengan budaya sadar pajak, maka nilai apakah yang dituntut untuk dibuktikan?

Data menunjukkan, dari total penduduk Indonesia sebesar 258 juta jiwa, yang terdaftar sebagai Wajib Pajak di tahun 2016 baru 32.7 juta, dan yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan baru 12.27 juta. Sementara mereka yang memiliki kesadaran membayar pajak masih di kisaran 4-5% yaitu sebesar 1.4 juta. Tanpa adanya peningkatan kesadaran dan tanggung jawab, pertanyaannya: Bagaimana cara mencapai target pajak di tahun 2017 sebesar Rp 1.283 triliun, bila harus digali hanya dari sejumlah 2 jutaan Wajib Pajak yang membayar pajak?

Hitung-hitungan simpel tersebut menunjukkan kenyataan bahwa penopang APBN terbesar hanya bisa diharapkan dari 2 juta Wajib Pajak. Apabila dipersentase 50% dari total penduduk adalah generasi muda, dengan estimasi dari 50% sisanya sekitar 30% adalah generasi produktif, maka masih ada 40 juta usia produktif yang seharusnya bisa diandalkan menjadi pembayar pajak yang baik. Namun mereka mungkin saja belum tercerahkan dan tersadarkan akan peran pajak.

Seolah disentakkan pada pertanyaan Fromm, kita menjadi ingin balik bertanya. Perlukah pendidikan pajak pada orang dewasa? Sementara di rentang 20-30 tahun ke depan, usia produktif yang memajukan kesejahteraan negeri ini bergantung di bahu 129 juta jiwa yang saat ini masih berstatus kanak-kanak.

Ini yang dinamakan perjalanan panjang bersama sang waktu.

Perjalanan panjang, dimulai jauh sebelum ada pihak-pihak yang menorehkan tanda tangan kerja sama dalam nota kesepahaman, bersepakat untuk memasukkan edukasi pajak dalam kurikulum pendidikan. Langkah demi langkah yang dikumpulkan satu persatu membuahkan hasil dalam skala tahunan. Tahun 2014, Kemendikbud membuka proses kerja sama, disusul Kemenristekdikti pada tahun 2016. Produk kesepakatan bersenyawa dengan dunia pembelajaran dan kemahasiswaan berupa terintegrasinya bahan ajar dalam buku-buku Mata Kuliah Wajib Umum yang lahir tahun 2016 disusul surat edaran bermuatan penerapan gerakan sadar pajak di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pengonversian capaian bahan ajar pendidikan dasar menengah masih bergelut dengan tujuan mewujudkan pemahaman atas peran pajak melalui kesederhanaan bahasa dan tingkat perkembangan psikologi anak usia muda sampai remaja.

Bagaikan air mengalir tanpa suara, angin kemudian membawa kecemasan masyarakat tentang tidak tercapainya penerimaan pajak di beberapa tahun belakangan. Lantas, disusul dengan tuntutan untuk memasukkan pajak dalam kurikulum pendidikan. Tidak ada yang mengerti, bahwa pergerakan tanpa suara itu bagaikan seni menangkap angin, dan membawanya bersama cahaya. Harus ada genderang yang ditabuh untuk membangkitkan rasa peduli, setidaknya menyentakkan masyarakat, bahwa Pajak, itu PERLU. Sasarannya jelas, generasi muda. Bahkan dari pendidikan dasar terendah yaitu kelas 1 SD.

Visinya harus jelas. Mewujudkan generasi bangsa yang mempunyai karakter cinta tanah air dan bela negara, menjadikan kesadaran pajak sebagai salah satu nilai budaya bangsa yang terus ditanamkan dari generasi ke generasi. Perjalanan panjang kemudian dilukis dalam kata road map. Tahun 2014 sampai 2030 adalah Masa Edukasi, yaitu kesadaran pajak ditabuh dalam proses kampanye, tak kalah dengan kampanye pilkada, melalui proses pembelajaran yang menggelora hanya dalam waktu sehari. Tanggal 11 Agustus 2017, adalah suatu hari ketika ratusan ribu siswa Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, dari Sabang sampai Merauke, belajar pajak secara sederhana melalui “Pajak Bertutur”. Dengan bahasa cinta yang manis, anak-anak manusia yang mempunyai tanggung jawab yang satu untuk memberikan edukasi sadar pajak, turun ke sekolah-sekolah. Mereka, para petugas pajak itu, mungkin saja belum mendengar pertanyaan Erich Fromm tentang mengapa pendidikan harus disasarkan kepada anak-anak, dan bukan kepada orang dewasa?

Harapan mereka, dari kejujuran berpikir kritis anak-anak, siapa tahu mampu menggeliatkan kesadaran orang tuanya bahwa merekalah yang berperan dalam pembangunan, melalui pajak yang mereka bayar.

Namun, menarik saat menyimak kembali kalimat Fromm. Transformasi dari masyarakat yang sakit kepada masyarakat yang sehat tergantung dari penciptaan kembali kesempatan bagi anggota masyarakat untuk berjalan bersama, saling mengagumi, saling menyapa, untuk menciptakan orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka.

Saat jiwa kanak-kanak disentuh dengan bermain bersama, mengagumi satu hal, saling menyapa, maka akan tercipta satu orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka. Suatu esensi kehidupan, mengalir bersama kata-kata yang dituturkan. Kata-kata berupa nasihat yang berulang terus menerus akan menciptakan roh bagi jiwa mereka. Menetap dalam jiwa membentuk kesadaran. Dan kesadaran sejak dini akan membangun karakter yang punya tanggung jawab terhadap keluarga, sesama dan negara.

Pendidikan, memang hak bagi setiap individu. Tugas kita adalah berlari bersama waktu untuk memunguti kesalahan masa lalu dan memperbaiki cita-cita di masa depan. Apa yang sudah dilakukan sebagai pembuka kesadaran masyarakat atas peran pajak, dengan membuat para siswa dan pengajar merasa bahagia, kelak akan menciptakan rasa bahagia di waktu yang lain saat mereka mengingat kejadian itu.

Percayalah! Kesan, adalah kekuatan mahadahsyat untuk menggerakkan pemahaman.

LEAVE A REPLY