Memantik Asa Pembatik Muda

45

Ia menanamkan rasa cinta anak-anak terhadap batik, mengajari mereka berkarya dan merawat warisan luhur budaya bangsa.

Guratan keceriaan puluhan pembatik cilik terpancar tatkala Anjani Sekar Arum pulang ke kediamannya, di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur membawa piala SATU Indonesia Awards 2017, Senin siang (2/11). Tak hanya itu, pendiri Sanggar Batik Andaka itu juga menenteng selembar hadiah simbolik dengan nominal 60 juta rupiah.

“Hore, Ibu menang, iku duite kanggo mlaku-mlaku nyang Jawa Timur ya, Bu,” celetuk salah satu anak sanggar itu. “Anjani tersenyum simpul, “Iya, iya, ini kalian loh yang juara, mbatike kudu apik, aja males,” jawabnya.

SATU Indonesia Awards adalah akronim dari Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia, sebuah apresiasi dari PT Astra International Tbk. kepada sosok inspiratif yang telah berinovasi di bidangnya. Pada ajang itu, Anjani berhasil menyingkirkan lebih dari tiga ribu peserta melalui pemberdayaan seni dan ekonomi kepada anak-anak usia 8 hingga 13 tahun.

Sejak tahun 2015, Anjani memang aktif menghimpun anak-anak yang ingin belajar dan melestarikan warisan bangsa, khususnya batik. Ia memulainya dengan menjaring siswa di seluruh sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di Kota Batu. Sayangnya, awalnya, baru dua orang anak yang tertarik. Mereka adalah Aliya Diza, usia 9 tahun dan Salsa Adilla, usia 11 tahun yang tertarik belajar batik tulis. Mulai saat itu, setiap sore, Anjani rutin mengajarkan keahliannya membatik kepada kedua anak tersebut.

“Menurut saya, menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar,” tutur pemilik Anjani Batik Galeri ini kepada Majalah Pajak.

Proses pembelajaran ia mulai dari membuka paradigma anak tentang keindahan batik. Anjani membuka dialog untuk merangsang imajinasi anak. Cara itu dinilai membuat anak-anak lebih mudah paham. Sebab, Anjani berpendapat, daya kreativitas anak-anak tidak bisa dibatasi. Imajinasi mereka luas dan lebih jujur mengekspresikan apa yang mereka lihat.

Setelah itu, dengan peralatan membatik yang telah ia sediakan, seperti kompor, canting (alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan lilin malam pada kain yang hendak dibatik), kain katun, malam atau lilin, perempuan kelahiran Batu, 12 April 1991 ini mulai mengajarkan tahap demi tahap membatik.

Pertama, Anjani mengajak Aliya dan Salsa untuk menuangkan imajinasi apa pun di atas kain menggunakan pensil. Proses tersebut memakan waktu satu hingga dua hari. Anak-anak, kata Anjani, memiliki gaya motif yang khas hingga sekarang, yaitu motif lanskap kota. Setelah motif disetujui Anjani, barulah kedua pembatik cilik ini menuju proses canting. Ini adalah proses utama dalam membatik karena membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Pada kedua proses ini, Anjani tak ingin mengintervensi, sebab di situlah ia menjaga marwah keautentikan sang pembatik.

Setidaknya seluruh proses itu paling lama dikerjakan selama satu minggu. Aliya sudah mematenkan nama untuk karya batik tulisnya, yaitu Marubayu Rupo Batu Ayu. Sedangkan, Salsa belum ada nama tapi karyanya khas bermotif air terjun, yang terinspirasi dari air terjun di samping rumahnya.

Nilai ekonomi

Selanjutnya, giliran Anjani bertugas memasarkan karya pembatik-pembatik cilik itu. Syukurnya, Anjani yang juga menjadi guru seni dan budaya di salah satu sekolah, memudahkan langkahnya untuk memperkenalkan kepada Pemerintah Kota Batu. Gayung pun bersambut. Pasalnya, pemkot setempat tertarik membeli karya kedua pembatik cilik itu dan berkomitmen akan membeli setiap karya batik tulis sanggar Andaka, sebagai cindera mata resmi khas Batu. Harga batik tulis sepanjang dua meter dinilai Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu.

“Sepuluh persen dari penjualan batik untuk membeli kompor dan canting, lilin, dan bayar pajak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” tambahnya. Selain itu, pembatik cilik juga harus membeli sendiri kain katun bahan untuk membatik seharga Rp 175 ribu.

Artinya, para pembatik cilik ini masih dapat mengantongi Rp 250 – 350 ribu per minggu. Sebulan, mereka mampu memproduksi empat sampai lima batik dengan penghasilan bersih Rp 1 juta-1,4 juta.

Gegap gempita sanggar tampaknya memancing anak-anak lain untuk ikut belajar membatik. Saat ini, siswa di Sanggarnya bertambah menjadi 30 orang. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu.

“Alhamdulillah, anak-anak berbakat ini selain berkarya juga membantu ekonomi keluarganya,” syukur Anjani.

Permintaan pasar yang makin tinggi, membuat pembatik cilik ini semakin giat membatik. Untuk meningkatkan nilai jual, Anjani bertransformasi dengan menggunakan kain Sutera. Modal kain Sutera sekitar Rp 1 juta–Rp 2 juta. Ia juga mem-branding batik karya anak di sanggarnya sebagai batik motif lanskap Kota Batu. Termasuk di dalamnya ada representasi berbagai macam buah khas Kota Batu, seperti apel dan stroberi.

Sempitnya sanggar juga membuat Anjani memberikan peralatan batik, seperti tiang penyangga batik, canting, dan kompor kepada pembatik cilik untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.

“Alhamdulillah, uang hadiah dari Astra akan saya gunakan untuk menyewa sanggar yang lebih besar,” tambah perempuan berkacamata ini.

Batik Bantengan

Sejatinya, apa yang dilakukan Anjani untuk anak-anak, merupakan pengabdiannya kepada kota kelahirannya. Sebab, jauh sebelum ia mendirikan sanggar, ia telah memopulerkan batik tulis khas Batu bernama “Bantengan” di dunia internasional. Tepatnya pada tahun 2014, ia diajak oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko.

Kecintaan Anjani pada batik tulis, ternyata sudah ada sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Anjani remaja sudah kerap membatik dengan motif kepala banteng. Inspirasinya, dari budaya bantengan, seni pertunjukan yang berasal dari kaki Gunung Arjuno, Jawa Timur.

“Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan. Contoh, saya membuat kepala banteng dengan motif bambu-bambu di setiap sisinya. Di ritual bantengan, memanggil leluhur, di sekelilingnya itu dipenuhi oleh bambu,” jelas Anjani.

Anjani mengaku belajar tentang batik secara autodidak. Namun, ia percaya, bakatnya mengalir dari sang ayah Agus Sulastri, seorang pelukis aliran realis.

“Ayah enggak pernah mengajari saya melukis, tapi sejak kecil saya suka memerhatikan gerak tangan ayah di atas kanvas,” yakin sulung tiga bersaudara ini.

Selain itu, dukungan sang bunda, Nanik Sulastri, menguatkan tekadnya untuk mengambil jurusan seni dan desain di Universitas Negeri Semarang (UNS), konsentrasi jurusan batik. Skripsinya fokus pada batik tulis Bantengan yang ia ciptakan saat SMA.

Tugas akhirnya itu membuat dosennya terkesan. Ia pun mendapat rekomendasi untuk meraih beasiswa pascasarjana di UNS, sekaligus menjadi dosen tetap di sana. Anjani menolak, ia memilih berkarya membatik seraya memberi edukasi kepada generasi penerus bangsa. Saat ini, bersama sanggar binaannya, ia sudah melanglang buana ke sejumlah negara di Eropa. Ia berharap, batik-batik karyanya dapat menjadi ikon kota Batu tercinta.

Menurut saya menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar

Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan.-Aprilia Hariani

LEAVE A REPLY