Membidik “Unbanked Population”

44
Gbr : Ilustrasi

 

 

Lewat penawaran saham perdana, perusahaan kios digital ini terus melebarkan bisnis dan menargetkan penambahan seribu titik baru di akhir 2017.

Perusahaan rintisan (start-up) yang bergerak dalam bisnis pengembangan kios digital, PT M Cash Integrasi, menargetkan penambahan seribu titik kios baru di seluruh Indonesia selama tahun 2017 ini.

Direktur Utama PT M Cash Integrasi, Martin Suharlie mengemukakan, pihaknya merupakan pionir pengembangan bisnis kios digital pertama di Indonesia yang mampu mengeluarkan berbagai jenis kartu multifungsi seperti e-money bersistem registrasi otomatis tanpa harus menggunakan rekening bank.

Perusahaan yang telah bermitra dengan 31.900 gerai modern dan 4,6 juta gerai tradisional ini akan terus memperluas penetrasi pasar lewat produk-produk digitalnya dari saluran modern hingga tradisional.

“Kami ingin melengkapi saluran distribusi mulai dari on-line hingga off-line yang bisa menembus ke lapisan masyarakat,” jelas Martin di Jakarta, Jumat (6/10).

Sebagai strategi untuk menambah modal dan terus memperluas jangkauan bisnis, perusahaan mulai melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir Oktober 2017.

Dengan mematok harga IPO di kisaran Rp 1.300 – Rp 1.450 per saham, anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk ini mengincar dana sebesar Rp 314 miliar dari 216,98 juta saham yang ditawarkan.

Martin mengungkapkan, perusahaan akan mengalokasikan 60 persen dana IPO untuk belanja modal, 30 persen untuk membeli mesin, perangkat lunak, dan infrastruktur teknologi informasi, dan 10 persennya untuk pengembangan kompetensi.

Fokus di dalam negeri

Di kesempatan yang sama, Presiden Komisaris MCI, Michael Steven mengatakan, perusahaannya menghadirkan teknologi sederhana tapi memberi dampak sosial yang besar karena dapat menjawab kebutuhan unbanked population yang jumlahnya mencapai sekitar 80 persen dari total penduduk Indonesia.

Ia meyakini, keunikan dan keunggulan dalam hal kearifan lokal merupakan nilai tambah tersendiri dalam merambah ekosistem digital Indonesia sekaligus membedakan perusahaannya dari start up lain.

“Teknologi mesin kami menggabungkan empat sektor berbeda yakni telekomunikasi, keuangan, retail modern, dan transaksi e-commerce. IPO ini langkah awal untuk mencapai visi digital distribution champion di Indonesia,” jelas Steven.

Meski banyak perusahaan luar negeri yang meminta untuk bermitra, pihak manajemen belum berniat mengembangkan bisnis ke negeri dan memilih fokus memenuhi kebutuhan di dalam negeri, yakni menargetkan penambahan seribu kios digital di akhir tahun 2017.

Unbanked population mencapai sekitar 80 persen dari total penduduk Indonesia.” –  Novita Hifni

LEAVE A REPLY