Menentukan Kewajaran Biaya Bisnis

154
Penulis : Harry Pattikawa

Pada umumnya Inspektur Pajak bisa menerima biaya-biaya perusahaan sebagai deductible cost selama dikeluarkan karena kebutuhan bisnis dari para Wajib Pajak. Biaya perusahaan ini tentunya mengurangi laba fiskal sehingga mengurangi pajak pendapatan perusahaan yang harus di bayar.

Pertanyaannya sekarang, apakah bisa biaya yang di keluarkan untuk keperluan bisnis, toh, dianggap bukan biaya bisnis sehingga bisa di coret dari laba fiskal?

Pertanyaan ini sangat perlu di bahas karena pemerintah juga telah menuntut kenaikan pendapatan pajak nasional. Untuk menjawabnya, ada sebuah yurisprudensi di Belanda yang bernama Cessna-Yurisprudensi pada tahun 1983 (ECLI:NL:HR:1983:AW8960). Yurisprudensi ini telah banyak dibahas di literatur dan universitas di Belanda dan sangat populer sebagai bahan ujian pajak di sekolah tinggi pajak.

Cessna adalah nama jenis kapal terbang capung. Pesawat ini digunakan oleh seorang dokter di Belanda dalam melaksanakan perjalan bisnis ke pasien, universitas dan konferensi. Pesawat ini dibukukan oleh sang dokter sebagai aset perusahaan. Bersamaan semua biaya dari penerbangan mengurangi laba fiskal.

Tentunya tugas Inspektur Pajak adalah mengkaji apakah biaya penerbangan yang dikeluarkan mempunyai karakter bisnis dari sang dokter. Inspektur Pajak memang tidak bisa duduk di kursi pengusaha dan kemudian menentukan sendiri transportasi apa yang layaknya digunakan seorang pengusaha. Di Belanda sendiri Inspektur Pajak tidak boleh menguji kebijakan bisnis pengusaha. Bahkan jika tindakan pengusaha di nilai sebagai tidak bertanggung jawab. Nuansa ini akan tetapi tunduk pada doktrin Cessna-Yurisprudensi.

Dalam jurisprudensi ini, Inspektur Pajak menolak sebagian biaya penerbangan pesawat sang dokter di laba fiskal. Inspektur Pajak kemudian membandingkan dengan biaya yang patut dikeluarkan jika sang dokter menggunakan pesawat penumpang umum biasa. Biaya yang patut ini kemudian di gunakan oleh Inspektur Pajak sebagai biaya perjalanan yang layak. Sang dokter kemudian menempuh jalur hukum.

Setelah melewati Pengadilan Negeri di Belanda, Pengadilan Tinggi Belanda menyatakan bahwa, secara umum, semua biaya yang berhubungan langsung dengan perusahaan dapat mengurangi laba fiskal. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa segala biaya bisnis yang dibuat berdasarkan pertimbangan pribadi semua bisa di tempatkan sebagai biaya perusahaan. Menurut Hakim Pengadilan Tinggi, besarnya biaya tersebut harus proporsional dengan manfaat yang perusahaan dapatkan. Jika tidak terpenuhi tuntutan ini, maka hanya sebagian dari biaya tersebut bisa di terima yang di keluarkan jikalau pengusaha mengeluarkan biaya-biaya tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis.

Penggunaan pesawat Cessna, menurut Hakim Tinggi memang bisa berarti untuk kepentingan perusahaan, akan tetapi tidak proporsional dengan biaya perusahaan. Pesawat ini tidak bisa dianggap sebagai aset bisnis sehingga biaya pengeluaran juga di tolak oleh Hakim Tinggi. Sang dokter tidak putus asa dan kemudian melakukan banding ke Mahkamah Agung Belanda (Hoge Raad).

Hoge Raad ternyata juga membenarkan pandangan Pengadilan Tinggi bahwa pengeluaran biaya pada prinsipnya bisa dibebankan pada keuntungan jika biaya ini dikeluarkan dengan tujuan untuk kepentingan bisnis perusahaan. Akan tetapi Hoge Raad menguji lebih ketat daripada Pengadilan Tinggi.

Hoge Raad berpendapat, “Biaya-biaya tidak bisa di terima sebagai deductibe cost, jika tidak ada pengusaha-pengusaha lain—yang berpikir bisnis secara wajar—yang bisa menerima (kelayakan) bahwa biaya-biaya yang dimaksud mempunyai tujuan-tujuan bisnis prinsip.”

Menurut saya Cessna-Yuriprudensi bisa menjadi bahan masukan yang berharga untuk Direktorat Jenderal Pajak di Indonesia dalam melaksanakan audit pajak pada perusahaan-perusahaan di mana pemilik memegang kendali seperti pengacara, dokter, artis maupun perusahaan-perusahaan lain.

Dalam menentukan apakah biaya-biaya dapat di terima dalam laba fiskal perlu di kaji apakah (1) biaya tersebut sangat berlebihan di mana tidak ada keselarasan dengan manfaat yang di dapat (2) dan pengusaha-pengusaha lain yang berpikir bisnis wajar tidak akan mengeluarkan biaya-biaya yang di maksud tersebut.

LEAVE A REPLY