Menggemakan Merdeka

335

Penulis: Aan Almaidah A.

Merdeka adalah saat kita menjadi orang bebas yang di mana pun merasa merdeka dan mandiri. Bisa melakukan apa saja atas nama kebaikan. Dihargai dalam bentuk apa pun. Dan dengan bertambahnya setahun usia kemerdekaan menjadi 72, maka definisi kemerdekaan menjadi lebih beraneka. Seperti teriakan Chairil Anwar, dalam puisi “Merdeka”nya.

Aku mau bebas dari segala.

Merdeka.

Kemerdekaan, tidak bisa ditoleransi, adalah suatu penghargaan memanusiakan dan berbudaya. Masalahnya, di dunia merdeka, masih ada yang tidak merdeka, semata karena tipisnya unsur penghargaan dan apresiasi. Istilah yang satu ini kemudian menjadi marak: perundungan.

Perundungan menjadi istilah yang dicermati, bukan semata berkorelasi dengan harga diri. Kisah perundungan atau bullying terkait pada edukasi dini pada diri seorang anak, yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Tanpa disadari, setiap anak mungkin saja mengalami perundungan di masa kecilnya. Hal yang terjadi serta mengendap di trauma masa kecil, dapat bersemayam nun jauh di Pikiran Bawah Sadar, untuk kemudian pada saat yang tepat di suatu masa, trauma itu meledak dan mewujudkan aksi. Seperti pantulan bunyi dari dasar yang jauh. Menunggu saat yang tepat, berita akan menggema ke segenap penjuru. Saat itulah, sejarah dimulai dalam dirinya.

Tanpa disadari pula, perundungan tidak hanya terjadi pada manusia, melainkan juga pada unit kerja. Ingatkah bagaimana kita bisa bebas merdeka melontarkan kritikan tajam, hujatan, kepada instansi tertentu yang cemar karena kasus korupsi atau pelanggaran hukum? Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Satu kasus oleh oknum akan mencemarkan harga diri dan rasa merdeka suatu instansi. Tanpa disadari, saat itulah perundungan terjadi. Karena kita merasa merdeka, maka kita bebas menilai. Kita lupa, bukan tidak mungkin, suatu saat kitalah yang mengalami hal yang sama, sementara kita sudah ahli mengkritik dari segala segi.

Sejarah seharusnya berawal dari edukasi. Dan memberikan edukasi adalah tanggung jawab setiap generasi ke generasi berikutnya. Saat ini, dari 250 juta penduduk Indonesia, hampir serpertiganya merupakan generasi muda TK sampai SMA. Namun, saat ada pemberitaan yang menyangkut ketidaktahuan informasi atau ketimpangan perilaku, yang dipertanyakan adalah kegagalan edukasi. Pertanyaannya, benarkah edukasi dimulai dari tanggung jawab orang tua? Beranikah orang tua bersaing dengan kecanggihan teknologi yang sudah dikenalkan melalui perang asimetris industri kepada anak kita? Ataukah kualitas guru atau dosen, dan kurikulum pendidikan yang dipersalahkan?

Pernah ada tutur yang digemakan sejak zaman Aristoteles dan Plato. As is the state, so is the school. Melalui pendidikan, masa depan suatu negara dibentuk. Tanpa disadari muatan pendidikan mengandung karakter. Setiap produk mengincar anak bangsa yang dikenal sebagai generasi muda. Tiba-tiba saja, balita menjelma miniatur orang dewasa berkat sarana komunikasi yang diperolehnya dari orang tua, atau ditontonnya tanpa larangan diskriminatif seperti zaman dulu. Pemerintahan berselancar dengan globalisasi. Pendidikan bersaing dengan informasi maya yang mudah diakses tanpa pendampingan dewasa. Semua informasi terserap tanpa filter. Dan tanpa disadari pula, tumbuhlah klan generasi muda baru yang serbatahu dan tidak tahu. Buat mereka, identitas diri adalah saat menyerap semua informasi tanpa tahu muasalnya, dan menjadi yang nomor satu menyebarkannya. Kekinian, dalam segala trending isu. Tidak ada lagi perdebatan tentang etika dan kesantunan karena semua bisa diteriakkan melalui tulisan.

Potensi besar

Modalitas apakah yang dimiliki negara yang merdeka?

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku global yang disegani, yang harus diwujudkan melalui kinerja yang hebat dan prestasi. Untuk mewujudkannya diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi luas, ambisi dan kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban, dan keadilan sosial. Generasi muda tersebut terbentuk dari kesehatan sejak dalam kandungan, pendidikan yang layak diterima sejak usia dini dan kemudahan dalam berproses di dunia pendidikan.

Disandingkan dengan internasional, ada tes untuk mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan dengan pengetahuannya itu, bernama Programme for International Student Assessment (PISA). Berdasarkan tes PISA 2015, kualitas siswa Indonesia dalam bidang matematika dan pemahaman membaca berada di urutan 64 dari 72 negara, di mana capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelumnya, survei 2012, Indonesia menempati peringkat 71 dari 72 negara anggota OECD tersebut.

Adakah yang prihatin dengan hal ini? Bagaimana bisa kita membiarkan anak kita menghabiskan waktu dengan gawai (gadget) sementara sang pencipta gawai konon, melarang anaknya menghabiskan waktu dengan inovasinya sendiri? Di sisi lain, keprihatinan menciptakan berbagai lomba yang mengarah pada kegemaran membaca seperti West Java Leaders Reading Challenge, misalnya.

Masalah kesehatan, peluang menerima kualitas pendidikan yang baik, terkait erat dengan ketersediaan anggaran maupun kualitas penggunaan anggaran. Seandainya ada edukasi yang masuk sedari dini, untuk mencetak karakter yang mengerti bahwa semua permasalahan bangsa ini didanai dari pajak, dan ada penanaman kecintaan membaca yang tinggi, maka As is the state, so is the school bukan hanya sekadar quote. Ingat: Bila ingin mengubah suatu negara, masuklah di dunia pendidikannya.

Berawal dari sadar pajak yang ditanam di kurikulum dasar melalui ketulusan berbagi dan empati kepada pembangunan dan kemajuan bangsa. Melalui road map edukasi yang terukur, 30 tahun ke depan kita tidak perlu lagi mendengar lontaran pertanyaan, “Untuk apa uang pajak bagi suatu negara?” tercetus dari para generasi muda Indonesia.

Tidak usahlah berdebat, apakah harus Generasi X atau Y atau Z yang harus mencetuskannya. Pengotakan generasi diluncurkan oleh arus globalisasi. Apabila satu generasi lebih menyerap informasi untuk menjadi tahu, maka generasi yang terkebelakang informasi menjadi kurang tahu. Toh, akhirnya, kemampuan dan kemauan yang menjadi pembeda.

Kesadaran pajak bukan hanya milik orang-orang kaya, tetapi perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Caranya dengan membenamkan konsep pikiran bahwa menjadi kaya itu berbeda. T. Harv Eker dalam buku Secrets of the Millionaire Mind-nya bersabda tentang konsep pikiran orang kaya. Pertama, Orang kaya percaya bahwa ‘”Saya menciptakan kehidupan saya”. Orang miskin percaya bahwa “Kehidupan terjadi begitu saja pada saya”. Apa contohnya? Bila generasi muda kita suka menyalahkan siapa saja atau apa saja atas hasil yang dia dapatkan, atau selalu melakukan pembenaran atas perbuatan, dan selalu mengeluh, maka waspadalah! Itu semua adalah ciri-ciri peran sang korban. Ciptakan kehidupan, dan bantu dengan pemahaman dari mana pembangunan bisa berjalan, bagaimana utang negara bisa bisa terbayar.

Kedua, orang kaya “fokus pada peluang”. Orang miskin “fokus pada hambatan”. Bagaimana bisa menjadi pembayar pajak yang baik bila selalu berpikir bahwa dengan membayar pajak maka kerugian yang dihadapi? Coba berpikir, bayar pajak itu untung, bayar pajak itu keren, maka peluang positif yang akan terjadi. Itu baru dua konsep cara berpikir orang kaya. Selanjutnya, bisa dicari sendiri. Pembedanya hanyalah pola pikir. Kata Cak Lontong, “Mikiirrrr…”.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah ketimpangan pendidikan harus diselesaikan dengan terjunnya inisiatif dan motivasi berbagi ilmu. Indonesia Mengajar. Kemenkeu Mengajar. Setiap generasi merasa perlu menyelamatkan generasi berikutnya. Perlu ada saatnya Pajak juga turut menuturkan untuk apa dia ada di kisaran kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tentunya dengan tutur senada, yaitu semua terbuka bahwa kesadaran dan pemahaman menjadi titik balik kecerdasan bangsa.

Maka, semuanya bergema. Gema, diketahui, terjadi di alam terbuka, setelah bunyi asli berakhir. Kemarahan yang diteriakkan, akan menimbulkan gema. Kesedihan yang diteriakkan juga akan menimbulkan gema. Setiap gema edukasi yang keluar dari anak bangsa akan membawa wajah bangsanya untuk mandiri dan penuh harga diri.

Dan itulah harga bangsa yang merdeka….

 

 

LEAVE A REPLY