Menyapa Dimensi Maya

364

Penulis: Aan Almaidah A.

Peradaban berubah…

Kita mengenal Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya untuk menyatukan Nusantara. Gajah Mada melakukan puasa sebelum mencapai kemenangan atas visinya yang luar biasa di masa itu. Mungkin saja di saat berpuasa sudah tercanang sumpah dan keyakinan di dalam hati.

Menyusul era Sumpah Pemuda, yang menyentakkan kesadaran atas bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Di masa itu, ada visi luar biasa untuk menyatukan bangsa Indonesia atas identitas negara. Melalui Sumpah Pemuda, ada keyakinan bahwa untuk merdeka tidak bisa dilakukan dengan berjuang sendiri melainkan bersama-sama.

Apabila peradaban dapat ditelaah melalui dimensi pendekatan, maka Joe Vitale, dalam bukunya The Awakened Millionaire, sudah dapat mengestimasikan pergerakan peradaban melalui pendekatan dari masa ke masa. Joe Vitale memaparkan pendekatan dimensi. Akan menarik bila pendekatan dimensi tersebut dikonversikan ke peradaban. Contohnya, Pendekatan pertama adalah Pendekatan Satu Dimensi. Bila dikonversikan ke peradaban, tentu saja kita pernah membaca sejarah peradaban Bangsa Aztec, Inca dan Maya.

Muhammad Yamin dalam buku Sejarah Amerika menyatakan bahwa bangsa Indian berasal dari Asia. Melalui Pendekatan Satu Dimensi, yaitu penulisan afirmasi, membaca sejarah tersebut mendorong ketertarikan kita pada teknik arsitektur dan keberanian dalam berperang yang dimiliki suku bangsa tersebut. Bahkan pada sejarah peradaban Maya, bangsa ini telah mengenal kalender dengan jumlah bulan sebanyak delapan belas dalam setahunnya, yang setiap bulan berisi 20 hari, dan ada yang memiliki lima hari, walaupun total jumlah hari dalam setahun tetap 365 hari. Apa yang kita pelajari dengan Pendekatan Satu Dimensi? Dengan membaca, kita dapat merasakan, seolah menyentuh kehebatan heroik dan memenuhi ruang jiwa kita dengan semangat. Itu namanya afirmasi. Afirmasi adalah, pernyataan atau penetapan positif.

Mungkin perasaan itu bisa disamakan saat kita membaca perjuangan Winnetou atau Sherlock Holmes di bidang keahlian yang berbeda. Dari keteladanan yang dibaca, timbul rasa ingin membayangkan sang pahlawan. Dan ini dinamakan Pendekatan Dua Dimensi, di mana kita dapat memvisualisasikan dengan baik apa yang kita baca dan rasakan. Namun, bagaimana halnya bila terjadi perkembangan ke Tiga Dimensi?

Hal itu dimiliki Mark Twain saat memvisualisasikan dirinya sebagai bocah laki-laki yang suka bertualang. Dan lahirlah Tom Sawyer, cerita klasik yang menginspirasi pembaca-pembaca cilik di seluruh dunia. Visualisasi ini menggambarkan Pendekatan Tiga Dimensi. Apa yang dirasakan, disentuh, diaromai, kemudian menjadi gambaran sang diri dalam visual seseorang. Novel ini diterbitkan pada tahun 1876. Lebih dari 1.5 abad kemudian, Pendekatan Tiga Dimensi menjadi bahaya terbesar saat menelan korban anak-anak yang memakan permen narkoba bernama Flakka. Mereka bermain bersama fantasi dan visual, dengan dampak kegilaan. Secara alamiah, Pendekatan Tiga Dimensi dapat ditanamkan dalam pikiran kanak-kanak dengan menanamkan kecintaan pada sejarah dan tokoh-tokoh positif lainnya. Mereka bisa bermain perang-perangan sebagai Diponegoro atau Soedirman. Sayang, kegiatan mendongeng sudah terlalu lama dilupakan orang tua.

Sejarah yang tertulis mungkin dibaca, mungkin tidak. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu, awal sejarah pajak diketahui bermula dari Mesir. Masalahnya bukan belajar sejarah, tetapi bahwa peradaban sudah berubah. Beralih kepada peradaban dewasa ini, kita sudah memasuki peradaban dengan Pendekatan Empat Dimensi. Di mana seorang manusia hidup dengan membayangkan kehidupannya berjalan dalam dunia tanpa batas, tanpa pembatas. Materi pembelajaran dengan mudah diperoleh melalui unduhan. Pengetahuan bertambah hanya dengan berselancar di dunia maya. Transaksi berjalan bebas di dunia on-line.

Maraknya bisnis on-line saat ini tidak terlalu disadari, mungkin saja berawal dari komunitas ibu-ibu antar jemput anak atau komunitas anak muda ngumpul. Berbekal foto, upload dalam jeda sekali pasang di malam hari bisa puluhan model dari jenis tas, pakaian, sepatu dan kolektibels, tinggal pesan dan bayar melalui transfer. Kalangan ekonom memperkirakan pola belanja masyarakat sudah beralih dari sistem konvensional menjadi belanja melalui jaringan internet (on-line). Kalau dulu di beberapa daerah yang menggaungkan semangat usaha rakyat bahkan menolak adanya swamarket menggantikan pasar konvensional, maka sekarang, ritel terbesar saja bisa gulung tikar dan mengumumkan penutupan usaha yang kemudian diserbu masyarakat yang membeli barang-barangnya sebelum raksasa ritel tersebut tutup. Kenapa? Transaksi e-commerce sudah semakin pesat melebarkan sayap.

Selamat datang, dunia empat dimensi! Betapa mengagumkan saat menyadari bahwa terjadi peningkatan transaksi e-commerce luar biasa di Indonesia. Transaksi berjalan dibatasi empat sisi ruangan saja, tanpa harus bergerak keluar. Barang datang menghampiri selesai transaksi. Jumlah penduduk mencapai di atas 250 juta jiwa membuat peluang Indonesia sangat tinggi menjadi pelaku-pelaku bisnis ekonomi digital di dunia maya. Data e-Marketer dari berita liputan6 menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat setiap tahunnya, dari sebesar 72.8 juta jiwa di tahun 2013, menjadi sekitar 112 juta jiwa di tahun 2017.

Berita adanya potensi pajak yang hilang perlu dipertegas dengan pemahaman pelaku usaha, apakah mereka tahu dan paham? Tahu bahwa rasio tingkat kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan berkisar masih 65%. Tahu bahwa perlu adanya bentuk pengawasan lain. Paham bahwa transaksi jual beli melalui jaringan on-line tersebut memiliki keterkaitan tanggung jawab dengan membayar pajak. Paham bahwa, tanggung jawab bisa ditingkatkan dengan adanya pengawasan yang tersistem. Contohnya, Korea Selatan yang menerapkan sistem gerbang pembayaran nasional. Potensi pajak yang dikhawatirkan tidak dibayarkan oleh pengusaha yang berlintas usaha secara on-line, dapat terjaring otomatis. Tentu saja, pemahaman itu bisa ditingkatkan melalui sinergi dengan seluruh kementerian dan lembaga yang menjadi prioritas utama.

Selama kita sadar bersama bahwa kehidupan masih disangga oleh uang, yang menjadi alat pengukur nilai, alat tukar dan alat pembayaran, maka kita harus paham bahwa pembangunan terjadi juga karena uang. Aset pembangunan seperti jalan, jembatan, dan semua infrastruktur, didanai oleh uang, tepatnya uang pajak. Bila uang pajak tidak terkumpul dengan baik, maka kegiatan yang terjadi adalah utang. Rumah tangga yang kehidupan sehari-harinya dibiayai oleh utang akan ambruk, bila si empunya rumah tangga tidak berusaha melunasinya. Melunasinya adalah dengan kesadaran bahwa mereka perlu bekerja, mengumpulkan uang, membiayai kehidupan dan melunasi utang. Suatu pemikiran yang sederhana untuk mengonversikan uang pajak dengan kehidupan berumah tangga, sebaiknya dimiliki setiap orang. Apabila pekerjaan mereka duduk di depan komputer untuk menjalankan bisnis dan usaha, maka itu tidak menghilangkan tanggung jawab atas perlakuan mereka terhadap tambahan penghasilan yang diperoleh, yaitu membayar pajak.

Bicara tentang uang, mungkin masih sedikit yang tahu, bahwa uang kertas ORI yang beredar pertama kali adalah pada tanggal 30 Oktober 1946, yang kita peringati sebagai Hari Uang Nasional. Edukasi uang sedari dini perlu ditanamkan pada anak adalah bagaimana hidup hemat, tidak konsumtif, dan berbagi kepada sesama. Keikhlasan berbagi, kejujuran, dan cinta tanah air, adalah modal pembentukan karakter yang diperlukan generasi muda. Pada akhirnya akan memandu mereka untuk bicara tentang pajak.

Kenapa harus bicara pajak kepada generasi muda? Karena, di dunia empat dimensi ini, pengetahuan didapat hanya dengan sekali klik. Edukasi dilakukan tanpa batas, untuk memperkaya wawasan, yang nantinya membentuk pola pikir yang positif. Saat ini, banyak yang berbicara tentang pajak berdasarkan pemahaman yang dibentuk dari pengetahuannya sendiri, untuk menjadi trending di media sosial. Bicara pro dan kontra yang terjadi, akan meningkatkan rating dan follower. Yang menarik adalah, hal ini telah diramalkan seorang sastrawan. Bicara tentang bicara, mari hayati kepedulian Kahlil Gibran sejenak…

Dan ada di antara mereka yang berbicara, dan tanpa pengetahuan, menyingkapkan kebenaran yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Dan ada di antara mereka yang memiliki kebenaran dalam diri mereka, tetapi mereka tidak mengatakannya dalam kata-kata.

Dalam hati merekalah jiwa seperti ini tinggal dalam kesunyian yang berirama….

 

Dunia memang tidak berbatas, tapi masih ada batasan antara baik atau benar. Seorang pencari kebenaran sejati akan menemukannya melalui dimensi pemahaman yang dalam.

Peradaban memang sudah berubah.

LEAVE A REPLY