Mimikri Sang Pelangi

433

Penulis: Aan Almaidah A

Proses mimikri yang terjadi di unit kerja dibahasakan dengan istilah transformasi. Transformasi itulah yang menggerakkan kemandirian, dan tak luput dari pengawasan instansi pemerintah, termasuk juga Ditjen Pajak.

Pelangi datang setelah hujan. Dan hujan datang bisa bersamaan dengan badai. Dua kejadian itu mengingatkan pada dua hal dalam kehidupan, yaitu anugerah dan musibah. Banyak yang mengatakan, akan datang anugerah setelah terjadinya ujian atau musibah. Namun, pada kenyataannya sulit membedakan mana ujian, mana anugerah. Sebab, pada akhirnya ujian yang terlewati menyadarkan kita bahwa ujian pun anugerah yang luar biasa.

Dari jendela pesawat dan ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut, kita dapat melihat fenomena alam yang indah. Pelangi yang terbit setelah hujan terlihat istimewa dengan jenis warna mejikuhibiniu-nya. Konon, dengan perputaran warna maka yang dihasilkan adalah warna putih. Pelangi pun terbentuk dengan proses pembelokan cahaya yang dinamakan pembiasan.

 Tetapi apakah Anda dapat menebak fenomena alam yang sama indahnya, terjadi di tubuh binatang, dan menghasilkan jenis warna berbeda dengan dasar warna sebelumnya? Ya, kita pernah belajar proses tersebut di mata pelajaran IPA atau Biologi. Namanya mimikri. Kulit bunglon memiliki lapisan yang memantulkan cahaya dan dipenuhi melamin pigmen alami. Mimikri terjadi pada bunglon tidak hanya karena rangsangan cahaya, tapi juga ada faktor suhu tubuh, tingkat tekanan, dan perubahan suasana hati. Apabila stres, terkejut, takut, mimikri bisa terjadi.

Ada satu hal penting bisa dimaknai dari dua kegiatan kehidupan, berupa ujian dan anugerah, setelah kita mempelajari proses terbitnya pelangi dan terjadinya mimikri. Dalam ujian dan anugerah, terkandung unsur cahaya. Terjadinya pelangi dan mimikri, juga karena rangsangan cahaya.

Proses mimikri yang terjadi di unit kerja kerap dibahasakan Transformasi. Seperti mimikri, cahaya juga terjadi pada transformasi. Dalam siklus transformasi energi, sebuah bola lampu mengubah energi kimia dari bohlam menjadi cahaya, atau panel solar mengubah cahaya menjadi listrik. Transformasi, menggerakkan kemandirian, dan tidak luput dari pengawasan Ditjen Pajak.

Transformasi yang sekarang gencar diupayakan sudah menyentuh unit terkecil wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu desa. Saat membaca “Bab Pendahuluan” buku terbitan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang berjudul Menuju Desa Mandiri (2016), dinyatakan bahwa narasi tentang desa senantiasa sarat dengan serangkaian balada. Pertama, pembangunan yang terjadi di desa masih diikuti dengan ketimpangan pembangunan karena banyak desa belum mampu mengakses dan menikmati pembangunan. Kedua, arus urbanisasi yang tidak terelakkan dan arus TKI ke negara lain terjadi karena desa tidak mampu menciptakan sumber kehidupan. Ketiga, banyak tanah di desa sudah bukan lagi milik penduduk desa, melainkan sudah terbeli oleh korporasi, dan seterusnya.

Adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa merupakan kebijakan negara yang bertujuan memberdayakan desa menuju desa yang maju, kuat, mandiri dan demokratis. Upaya transformasi desa tersebut difokuskan pada pemberdayaan desa, memberikan mandat kewenangan dan pembangunan kepada desa, melakukan redistribusi dengan membagi sumber daya baik dalam bentuk dana desa maupun tanah untuk mencapai keadilan ekonomi. Pun adanya proses edukasi, katalisasi dan fasilitasi kepada tokoh-tokoh desanya.

Maka, bergeraklah pembangunan kemandirian desa tersebut. Salah satunya dengan revolusi infrastruktur yang didukung oleh dana desa. Pemanfaatan dana desa memerlukan kehati-hatian karena gelontoran dana desa berawal dari APBN yang kontribusi terbesarnya dari penerimaan pajak. Untuk menciptakan transformasi yang murni, perlu pengawasan dana desa oleh unit tertentu melalui pengawasan langsung ke desa-desa serta mengatasi kendala waktu, jarak dan transportasi.

Bicara tentang desa, diketahui sebagian besar Wajib Pajak terdaftar berdomisili di perkotaan, sementara jumlah penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan. Hal ini memunculkan optimisme meningkatnya jumlah Wajib Pajak potensial dari sektor pedesaan yang dapat digunakan sebagai basis perluasan Wajib Pajak. Jika Wajib Pajak sektor desa dikelola dengan baik maka pengamanan penerimaan pajak akan berjalan baik. Itulah yang perlu ditekankan bagi masyarakat desa, yaitu pemberian edukasi kesadaran pajak untuk membantu peningkatan kepatuhan perpajakan masyarakat.

Tingkat kepatuhan sendiri terdiri dari unsur kesadaran, pelayanan dan sanksi. Unsur pelayanan dan sanksi terjadi pada satu masa dan satu waktu, namun unsur kesadaran memiliki signifikansi tinggi karena bersifat jangka panjang. Kesadaran, dilahirkan dari karakter yang terbentuk melalui edukasi menahun.

Kesadaran perpajakan inilah yang akan ditransformasikan kepada masyarakat melalui pendidikan. Idealnya, pajak masuk dalam kurikulum pendidikan baik dari sekolah dasar sampai menengah dan perguruan tinggi. Generasi muda mengunyah kesadaran pajak bukan hanya dari ratusan jam latihan (jamlat) dan buku. Pajak mungkin bisa dibahasakan melalui aktivitas yang membangkitkan kepedulian atas perlunya pajak bagi bangsa yang bernegara. Perlu cara mendidik yang membangkitkan bahagia dalam menanamkan kesadaran ini. Misalnya, bermain untuk menciptakan pelangi. Menerangkan apa arti cahaya. Dan apakah pajak juga bisa menjadi cahaya bagi kehidupan rakyat di suatu negara?

Perubahan itu memiliki titik-titik tujuan. Apabila kita sudah melaksanakan perubahan dalam diri sendiri, berarti kita sudah sampai pada satu titik tujuan, untuk kemudian bersiap berubah kembali.

Tidak berbeda dengan generasi muda yang selalu belajar dalam perubahan lingkungan, kita yang berada di alam transformasi kelembagaan juga perlu diajarkan manajemen perubahan. Bahwa perubahan itu memiliki titik-titik tujuan. Apabila kita sudah melaksanakan perubahan dalam diri sendiri, berarti kita sudah sampai pada satu titik tujuan, untuk kemudian bersiap berubah kembali. Namun di saat yang sama, di titik tujuan yang kita capai, sudah terjadi perubahan lagi. Dan kita kembali berlari menyesuaikan diri dengan perubahan itu untuk sampai di titik berikutnya.

Hal yang sama terjadi setiap kali suatu aturan dan kebijakan muncul. Saat itu menandakan dimulainya perubahan baru. Perubahan yang terjadi saat ini terkait dengan keterbukaan akses informasi keuangan. Banyak pertanyaan galau bahwa aturan tersebut akan merugikan, misalnya. Pemilik rekening dalam negeri tidak perlu khawatir karena akses informasi keuangan ini hanyalah untuk kepentingan perpajakan, tidak untuk kepentingan lain. Pemerintah pun melindungi keamanan dan kerahasiaannya.

Kepercayaan, merupakan kunci utama saat terjadinya perubahan demi perubahan, dari satu titik ke titik yang lainnya. Dari satu keterbukaan informasi pajak, akan tertata kedisiplinan, akan tercipta kesadaran perpajakan, dan terealisasi kepatuhan yang sebenarnya.

Uniknya, perubahan digambarkan dengan metamorfosis kupu-kupu. Dari telur menjadi kepompong, menjelmalah ulat dan muncul keindahan kupu-kupu. Kalau mau berpikir lebih visioner lagi, siklus tidak hanya berhenti di tahap kupu-kupu. Kupu-kupu dengan keindahannya sebelum mati, akan meninggalkan telur yang menjadi kepompong, dan ulat lagi. Setelah keindahan tahap kupu-kupu, masih akan terjadi perusakan tahap ulat, seterusnya. Ada anugerah, ada ujian. Terkadang timbulnya bersamaan.

Makna yang terdalam adalah: Berubahlah seperti pelangi dan bermimikrilah dengan cahaya pelangi di kehidupanmu. Kita semua perlu berlari untuk menggapai dan mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi pasti. Kita perlu berani menengadah ke langit mencari jawaban. Karena, seperti kata Charlie Chaplin, “Kau tak akan pernah menemukan pelangi jika kau menunduk.”

LEAVE A REPLY