Tri Mumpuni MP Vol XVIII
Tri Mumpuni MP Vol XVIII

Tri Mumpuni Wiyatno (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 6 Agustus 1964; umur 52 tahun) adalah seorang pemberdaya masyarakat melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hifro di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia. Ia mendapat penghargaan Ashden Awards 2012.

Tri Mumpuni memandang energi sebagai pembuka pintu peradaban dan tulang punggung pembangunan ekonomi. Oleh karena itu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sedapat mungkin bisa dikelola oleh masyarakat secara mandiri.

Melalui pendekatan ini, ia dan suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji menididik masyarakat untuk mampu mengenali dan mengelola kebutuhannya sendiri serta memahami, bahwa energi itu tidak murah dan harus dikelola secara bijaksana untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sementara ini sulit mendapatkan dukungan dari pemerintah karena pola penganggaran di Indonesia masih sangat kaku (berbasis project fisik). Di lain pihak, budaya masyarakat Indonesia masih sangat beragam dan banyak sekali yang memerlukan pendampingan berbasis assessment. Pola pembangunan tersebut tidak terdukung dengan model penganggaran saat ini.

Untuk jangka pendek dalam merealisasikan mimpinya masih menggunakan dana dari negara donor, sementara pendekatan kepada pemerintah terus dilakukan agar pemerintah memiliki pola penganggaran yang mendukung pembangunan manusia Indonesia secara nonfisik (brain invesment).

Dedi Mulyadi MP Vol XXVI
Dedi Mulyadi MP Vol XXVI

Dedi Mulyadi, SH lahir di Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat pada tanggal 12 April 1971. Menjadi Bupati Purwakarta Sejak tahun 2008 dan menjadi petahana.

Membangun Purwakarta berbasis kearifan lokal. Mimpinya Purwakarta menjadi kabupaten yang maju dan mandiri melalui penerapan konsep ekonomi kerakyatan.

Strategi pembangunan dilakukan dengan menjadikan desa sebagai basis kekuatan ekonomi melalui peningkatan kualitas infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan kemampuan sumber daya manusia. Konsep berpikir masyarakat desa yang semula berorientasi pekerja dialihkan menjadi konsep berpikir pengusaha.

Banyak kearifan lokal yang dianggap berbenturan dengan nilai agama masyarakat setempat sehingga banyak program Dedi Mulyadi yang ditentang masyarakat.

Dedi Mulyadi melakukan pendekatan langsung dengan pola gaya hidupnya yang merangkul dan merakyat. Ia berusaha membongkar sekat-sekat hierarki birokrasi yang seringkalli bertele-tele. Ia membuat ruang-ruang dialog langsung kepada rakyatnya baik melalui forum-forum-formal maupun nonformal, agar memperoleh dukungan luas pada saat membuat kebijakan.

Hasto Wardoyo MP Vol. XXIV
Hasto Wardoyo MP Vol. XXIV

dr. Hasto wardoyo SP. OG.(K) adalah Bupati Kulon Progo  yang menjabat pada periode 2011-2016. Sebelum menjadi Bupati, Hasto Wardoyo dikenal sebagai dokter dan pengusaha bidang jasa kesehatan.

Program utama Hasto Wardoyo adalah mengentaskan kemiskinan melalui  berbagai program inovatif pro-rakyat yaitu “Bela dan Beli Kulon Progo”, Bedah Rumah dan  program rawat inap warga miskin tanpa kelas.

Topografi kulon progo adalah pegunungan dan daerah kering, dengan sumber PAD yang termasuk masih rendah. Gempuran produk asing yang banyak membanjiri masyarakat menjadi tantangan besar untuk menyukseskan program Bela Beli Kulon Progo.

Membangun dengan melibatkan semua unsur masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Perusahaan swasta, BUMN dan BUMD didaulat menjadi orangtua asuh dari desa-desa di Kulon Progo. Membudayakan kembali semangat gotong royong. Mengajak masyarakat membangun perekonomian dengan mengutamakan produk sendiri agar ekonomi setempat lebih kuat.

Program Bedah Rumah dilaksanakan dengan cara mengajak masyarakat setempat yang lebih mampu untuk bergotong royong membangun rumah masyarakat kurang mampu.

Program rawat inap bebas kelas pelaksanaannya adalah dengan memberi kesempatan kepada pasien tidak mampu untuk rawat inap di rumah sakit tanpa melihat kelas dan tarif. Melalui prorgam ini, PAD pemerintah justru meningkat dari yang sebelumnya Rp 40 miliar menjadi Rp 70 miliar.