Politik Kasih Sayang

42

Sang kakek politisi, dan ayahnya jurnalis. Namun, ia memilih berkarier sebagai model dan aktris, meski akhirnya garis darah membawanya kembali ke dunia politik.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Ingrid Maria Palupi Kansil telah menjadi pusat perhatian teman-temannya. Gaya Ingrid kecil tak biasa. Di sekolah ia tampil begitu modis dengan sepatu mengilat dihiasi krincing-krincingan, rok model span, serta rambut dihiasi berbagai jepitan lucu.

“Itu mau sekolah atau ngelenong?” kata Ingrid menirukan celotehan temannya kala itu.

Meski begitu, Ingrid kecil bergeming. Ia merasa percaya diri dengan tampil beda dibandingkan teman-temannya yang lain. Agaknya aura bintang memang telah tertanam di jiwanya sejak kecil. Pun ketika diajak temannya bermain dokter-dokteran, ia juga selalu enggan. Ingrid cilik memilih bermain peragawati-peragawatian di rumah. Bermodal gincu ungu, sepatu berhak tinggi, serta kain milik sang bunda, Ine Ruhaeni, ia berlagak bak model profesional yang sering tampil di majalah dan televisi.

“Ibu saya tepuk tangan waktu saya lenggak-lenggok. Di sanalah saya semakin percaya diri memiliki talenta di bidang seni,” kenang perempuan kelahiran Cianjur, 9 November 1976 ini kepada Majalah Pajak, di kediamannya di kawasan Bangka, Kemang, Jakarta, awal September lalu.

Kecintaan Ingrid pada dunia modeling, memang bersumber dari dirinya sendiri. Mungkin, katanya, karena ia kerap membaca majalah remaja yang tren di eranya. Padahal, sang ayah, Setyabuddy Kansil berkiprah di dunia jurnalistik. Kakeknya, Willy Andang Taruna Kansil merupakan politisi partai Golongan Karya (Golkar) sekaligus aktivis Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO). Rumah Ingrid pun dijadikan basecamp diskusi para aktivis kala itu.

Pernah, menurut Inggrid, sang Ayah berharap agar Inggrid mewarisi profesi jurnalis seperti dirinya. Namun, Ingrid keukeuh pada pendiriannya. Ia tetap setia pada cita-citanya menjadi peragawati. Ia bahkan tak takut melawan arus. Militansi meraih asa di bidang modeling itu semakin menderu saat usianya beranjak remaja. Ia tak pernah absen mengikuti lomba fashion show, tari kontemporer, bahkan ajang tarik suara yang diadakan di pusat perbelanjaan di Cianjur dan sekitarnya. Karena kehendak sendiri, Ingrid pun menjalani segala persiapan tanpa dibantu siapa pun.

“Pernah saya sampai ke Cihampelas untuk lomba, naik bus sendiri saja. Enggak ada yang support atau sponsorin,” kenang ketua bidang kesenian Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Mardi Yuana Cianjur ini.

Jiwa seni Ingrid pun semakin lama semakin terasah. Ia mengurai imajinasi dengan menggambar dan merancang pakaiannya untuk mengikuti berbagai lomba. Namun, lagi-lagi bukan tampilan biasa. Topi sawah berbahan rotan misalnya, ia gunting seluruh sisi dan ia jadikan topi yang modis dan etnik. Lalu, stocking sang bunda ia pangkas menjadi celana legging, atau eksperimen serupa lainnya. Yang penting, tampil beda dengan kreativitas ide sendiri.

“Jadi, selalu tampil beda dengan finalis lain,” serunya sembari tertawa.

Ketekunan dan kreativitas itu pun akhirnya membawanya terpilih menjadi Mojang Cianjur pada ajang Mojang dan Jaka Cianjur tahun 1993. Berbekal itu, tekadnya pun semakin bulat untuk hijrah dan meraih peruntungan di bidang modeling di rimba Ibu Kota.

Ratu iklan

Seraya menempuh pendidikan sarjana Sosial di Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Lenteng Agung Jakarta Selatan, Ingrid terus mengejar kariernya. Wajah manis khas Sunda bercampur Sulawesi Utara Ingrid, semakin tak asing di mata pemirsa televisi. Tak kurang dari 200 iklan pernah ia bintangi pada periode 1995–1999. Karenanya ia mendapat julukan sebagai ratu iklan di kalangan selebritas lainnya. Dan tahun 2009, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberinya gelar sebagai sosok yang berhasil membintangi produk iklan terbanyak.

Pada era yang sama, perempuan yang pernah meraih gelar ratu Jeans se-Jawa Barat ini juga merambah seni akting dengan membintangi 15 sinetron. Kariernya kian gemilang seiring didaulatnya dirinya sebagai presenter Kabar Tokoh di salah satu televisi swasta.

Kendati demikian, bukan berarti tak pernah ada masa sulit yang alami. Masalah tak ada job di saat ia harus membayar uang kos dan biaya kuliah pun pernah ia rasakan. Namun, Ingrid tak putus asa, ia lalu bekerja di sebuah perusahaan swasta menjadi sekretaris dan akhirnya berhasil bertahan dan mampu menyelesaikan kuliahnya di kota metropolitan. Di Ibu Kota jugalah akhirnya takdir mempertemukan cinta Ingrid dengan pengusaha sekaligus politisi Demokrat Syarief Hassan. Hingga akhirnya resmi menikah pada 26 Juni 1999.

Lebih dekat dengan rakyat

Selepas menikah, dunia keartisan Ingrid agak bergeser. Di tahun 2004, sang suami yang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi XI turut mengajak Ingrid turun ke Daerah Pilihan (Dapil) Jawa Barat III. Di sana Ingrid sering mendengar aspirasi rakyat. Hati kecilnya terketuk untuk ikut melayani dan berpartisipasi membantu rakyat.

 “Politik juga seperti seni. Membutuhkan naluri, menaburkan kasih sayang untuk menanam, membangun, dan merawat rakyat,” ungkap pemilik hobi membaca buku politik, agama, ekonomi, dan budaya ini.

Hingga pada tahun 2009, Ingrid maju dan terpilih menjadi anggota Komisi VIII DPR bidang agama dan sosial. Di parlemen ia gencar memperjuangkan Rancangan Undang Undang Penanganan Fakir Miskin. UU itu dianggap penting, karena diproyeksikan dapat mengurangi rakyat miskin masih berkisar 30 juta jiwa di tahun 2011.

Tak kalah penting, di dalamnya juga terdapat skema bantuan yang lebih efisien karena sasaran penduduk miskin berdasar data sesuai nama, alamat dan karakter jenis pekerjaan. Pendanaan program bantuan akan bersumber dari APBN, APBD, hibah, zakat, infaq, sedekah, terutama Corporate Social Responsibility (CSR).

“RUU Penanganan Fakir Miskin karena banyak saya temui rakyat miskin di tengah perusahaan besar. Misalnya, di Sukabumi banyak perusahaan air mineral, kelapa sawit, dan rokok, tapi rakyatnya masih di bawah garis kemiskinan. Anak-anaknya kurang gizi, infrastruktur desa masih rusak,” kata ibu Ziankha Amorette Fatimah Syarief ini. Ia menyayangkan RUU tersebut mandek seiring tak terpilihnya Ingrid di pemilihan legislatif 2014. Meski begitu, bagi Ingrid, perjuangan belum usai. Ingrid tetap merintis organisasi Ikatan Pengusaha Muslimah (IPEMI) dengan membina ekonomi Muslimah dari tingkat desa hingga provinsi di seluruh Indonesia.

“Melalui IPEMI saya harap Muslimah berjuang untuk membantu meretas kemiskinan keluarga dengan meningkatkan kualitas dalam pengetahuan, keterampilan profesionalisme di bidang usaha,” terang pengembang batik Sukabumi, batik Beasan Cianjur, dan batik khas Sukabumi karya anggota IPEMI ini.

Ke depan Ingrid berdoa dapat berkesempatan memperjuangkan kesejahteraan rakyat Sukabumi. Sebab, Sukabumi merupakan daerah termiskin di Jawa Barat. Luas wilayah Sukabumi menjadi faktornya. Ia menyebut, pernah menyambangi Pantai Perawan Ujung Genteng Sukabumi yang indah, tapi tidak terawat. Padahal, pantai tersebut dapat menjadi destinasi pendongkrak perekonomian warga sekitar. Menurut Ingrid, pemekaran wilayah Sukabumi adalah solusinya.

“Saya merasa perjuangan belum selesai. Kalau memang saya masih bisa diamanahkan 2019 saya perjuangkan pemekaran wilayah di Sukabumi untuk menurunkan kemiskinan,” harapnya.- Aprilia Hariani

LEAVE A REPLY